Senin, 08 Desember 2014

Asuhan Keperawatan Osteomielitis

OSTEOMIELITIS

BAB I
PENDAHULUAN

Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan bertanggung jawab terhadap pergerakan. Komponen utama sistem utama sistem muskuloskeletal adalah jaringan ikat. Sistem ini terdiri dari tulang, sendi, otot rangka, tendon, ligamen, bursa, dan jaringan-jaringan khusus yang menghubungkan struktur-struktur ini. Beragamnya jaringan dan organ sistem muskuloskeletal dapat menimbulkan berbagai macam gangguan. Beberapa gangguan tersebut timbul pada sistem itu sendiri, sedangkan gangguan yang berasal dari bagian lain tubuh tetapi menimbulkan efek pada sistem muskuloskeletal. Tanda utama gangguan sistem muskuloskeletal adalah nyeri dan rasa tidak nyaman , yang dapat bervariasi dari tingkat yang paling ringan sampai yang sangat berat (Price, Wilson, 2005).
Salah satu gangguan tersebut adalah osteomielitis. Osteomielitis adalah radang tulang yang disebabkan oleh organisme piogenik, walaupun berbagai agen infeksi lain juga dapat menyebabkannya, gangguan ini dapat tetap terlokalisasi atau dapat tersebar melalui tulang, melibatkan sumsum, korteks, jaringan kanselosa, dan periosteum (Dorland, 2002)
.









BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi
Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan daripada infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum (pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati). Osteomielitis dapat menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi kualitas hidup atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas. (Brunner, suddarth. (2001).  Beberapa ahli memberikan defenisi terhadap osteomyelitis sebagai berkut :
1.      Osteomyelitis adalah infeksi Bone marrow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh staphylococcus aureus dan kadang-kadang Haemophylus influensae (Depkes RI, 1995).
2.      Osteomyelitis adalah infeksi tulang (Carpenito, 1990).
3.      Osteomyelitis adalah suatu infeksi yang disebarkan oleh darah yang disebabkan oleh staphylococcus (Henderson, 1997)
4.      Osteomyelitis adalah influenza Bone Marow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh staphyilococcus Aureus dan kadang-kadang haemophylus influenzae, infeksi yang hampir selalu disebabkan oleh staphylococcus aureus.

B.     Klasifikasi Osteomielitis (Henderson, 1997)
Dari uraian di atas maka dapat diklasifikasikan dua macam osteomielitis, yaitu:
1.      Osteomielitis Primer ,yaitu penyebarannya secara hematogen dimana mikroorganisme berasal dari focus ditempat lain dan beredar melalui sirkulasi darah.
2.      Osteomielitis Sekunder ,yaitu terjadi akibat penyebaran kuman dari sekitarnya akibat dari bisul, luka fraktur dan sebagainya.
Berdasarkan lama infeksi, osteomielitis terbagi menjadi 3, yaitu:
1.      Osteomielitis akut
Yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 2 minggu sejak infeksi pertama atau sejak penyakit pendahulu timbul. Osteomielitis akut ini biasanya terjadi pada anak-anak dari pada orang dewasa dan biasanya terjadi sebagai komplikasi dari infeksi di dalam darah. (osteomielitis hematogen).Osteomielitis akut terbagi menjadi 2, yaitu:
a.       Osteomielitis hematogen
Merupakan infeksi yang penyebarannya berasal dari darah. Osteomielitis hematogen akut biasanya disebabkan oleh penyebaran bakteri darah dari daerah yang jauh. Kondisi ini biasannya terjadi pada anak-anak. Lokasi yang sering terinfeksi biasa merupakan daerah yang tumbuh dengan cepat dan metafisis menyebabkan thrombosis dan nekrosis local serta pertumbuhan bakteri pada tulang itu sendiri. Osteomielitis hematogen akut mempunyai perkembangan klinis dan onset yang lambat.
b.      Osteomielitis direk
Disebabkan oleh kontak langsung dengan jaringan atau bakteri akibat trauma atau pembedahan. Osteomielitis direk adalah infeksi tulang sekunder akibat inokulasi bakteri yang menyebabkan oleh trauma, yang menyebar dari focus infeksi atau sepsis setelah prosedur pembedahan. Manifestasi klinis dari osteomielitis direk lebih terlokasasi dan melibatkan banyak jenis organisme.
2.      Osteomielitis sub-akut
Yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 1-2 bulan sejak infeksi pertama atau sejak penyakit pendahulu timbul.


3.      Osteomielitis kronis
Yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 2 bulan atau lebih sejak infeksi pertama atau sejak penyakit pendahulu timbul. Osteomielitis sub-akut dan kronis biasanya terjadi pada orang dewasa dan biasanya terjadi karena ada luka atau trauma (osteomielitis kontangiosa), misalnya osteomielitis yang terjadi pada tulang yang fraktur.

C.     Etiologi (Henderson, 1997)
Bisa disebabkan oleh bakteri,antara lain :
1.         Staphylococcus aureus sebanyak 90%
2.         Haemophylus influenzae (50%) pada anak-anak dibawah umur 4 tahun.
3.         Streptococcus hemolitikus
4.         Pseudomonas aurenginosa
5.         Escherechia coli
6.         Clastridium perfringen
7.         Neisseria gonorhoeae
8.         Salmonella thyposa
Bagian tulang bisa mengalami infeksi melalui 3 cara,yaitu :
1.      Aliran darah
Aliran darah bisa membawa suatu infeksi dari bagian tubuh yang lain ke tulang. Infeksi biasanya terjadi di ujung tulang tungkai dan lengan (pada anak-anak) dan di tulang belakang (pada dewasa).
Orang yang menjalani dialisa ginjal dan penyalahgunaaan obat suntik ilegal, rentan terhadap infeksi tulang belakang (osteomielitis vertebral). Infeksi juga bisa terjadi jika sepotong logam telah ditempelkan pada tulang, seperti yang terjadi pada perbaikan panggul atau patah tulang lainnya.
2.      Penyebaran langsung
Organisme bisa memasuki tulang secara langsung melalui patah tulang terbuka, selama pembedahan tulang atau dari benda yang tercemar yang menembus tulang.Infeksi ada sendi buatan, biasanya didapat selama pembedahan dan bisa menyebar ke tulang di dekatnya.
3.      Infeksi dari jaringan lunak di dekatnya.
Infeksi pada jaringan lunak di sekitar tulang bisa menyebar ke tulang setelah beberapa hari atau minggu. Infeksi jaringan lunak bisa timbul di daerah yang mengalami kerusakan karena cedera, terapi penyinaran atau kanker, atau ulkus di kulit yang disebabkan oleh jeleknya pasokan darah atau diabetes (kencing manis). Suatu infeksi pada sinus, rahang atau gigi, bisa menyebar ke tulang tengkorak.

D.    Manifestasi klinis (Henderson, 1997)
1.         Demam
2.         Nafsu makan menurun
3.         Nyeri tekan saat pemeriksaan fisik
4.         Gangguan sendi karena adanya pembengkakan
Pada anak-anak, infeksi tulang yang didapat melalui aliran darah, menyebabkan demam, menyebabkan nyeri pada tulang yang terinfeksi. Daerah diatas tulang bisa mengalami luka dan membengkak, dan pergerakan akan menimbulkan nyeri.Infeksi tulang belakang biasanya timbul secara bertahap, menyebabkan nyeri punggung dan nyeri tumpul jika disentuh. Nyeri akan memburuk bila penderita bergerak dan tidak berkurang dengan istirahat.
Infeksi tulang yang disebabkan oleh infeksi jaringan lunak di dekatnya atau yang berasal dari penyebaran langsung, menyebabkan nyeri dan pembengkakan di daerah diatas tulang, dan abses bisa terbentuk di jaringan sekitarnya. Infeksi ini tidak menyebabkan demam, dan pemeriksaan darah menunjukkan hasil yang normal.Penderita yang mengalami infeksi pada sendi buatan atau anggota gerak, biasanya memiliki nyeri yang menetap di daerah tersebut.Jika suatu infeksi tulang tidak berhasil diobati, bisa terjadi osteomielitis menahun (osteomielitis kronis).Kadang-kadang infeksi ini tidak terdeteksi selama bertahun-tahun dan tidak menimbulkan gejala selama beberapa bulan atau beberapa tahun.
Osteomielitis menahun sering menyebabkan nyeri tulang, infeksi jaringan lunak diatas tulang yang berulang dan pengeluaran nanah yang menetap atau hilang timbul dari kulit. Pengeluaran nanah terjadi jika nanah dari tulang yang terinfeksi menembus permukaan kulit dan suatu saluran (saluran sinus) terbentuk dari tulang menuju kulit.
E.     Pathways
pw osteomielitis.png

F.      Komplikasi (Brunner, suddarth. (2001)
Komplikasi osteomyelitis dapat terjadi akibat perkembangan infeksi yang tidak terkendali dan pemberian antibiotik yang tidak dapat mengeradikasi bakteri penyebab. Komplikasi osteomyelitis dapat mencakup infeksi yang semakin memberat pada daerah tulang yang terkena infeksi atau meluasnya infeksi dari fokus infeksi ke jaringan sekitar bahkan ke aliran darah sistemik. Secara umum komplikasi osteomyelitis adalah sebagai berikut:
1.         Abses Tulang
2.         Bakteremia
3.         Fraktur Patologis
4.         Meregangnya implan prosthetik (jika terdapat implan prosthetic)
5.         Sellulitis pada jaringan lunak sekitar.
6.         Abses otak pada osteomyelitis di daerah kranium.

G.    Patofisiologi (Brunner, suddarth. (2001)
Staphylococcus aureus merupakan penyebab 70% sampai 80% infeksi tulang. Organisme patogenik lainnya yang sering dijumpai pada Osteomielitis meliputi : Proteus, Pseudomonas, dan Escerichia Coli. Terdapat peningkatan insiden infeksi resistensi penisilin, nosokomial, gram negative dan anaerobik. Awitan Osteomielitis stelah pembedahan ortopedi dapat terjadi dalam 3 bulan pertama (akut fulminan – stadium 1) dan sering berhubngan dengan  penumpukan hematoma atau infeksi superficial. Infeksi awitan lambat  (stadium 2) terjadi antara 4 sampai 24 bulan setelah pembedahan. Osteomielitis awitan lama (stadium 3) biasanya akibat penyebaran hematogen dan terjadi 2 tahun atau lebih setelah pembedahan. Respon inisial terhadap infeksi adalah salah satu dari inflamasi, peningkatan vaskularisasi, dan edema. Setelah 2 atau 3 hari, trombisis pada pembuluh darah terjadi pada tempat tersebut, mengakibatkan iskemia dan nefrosis tulang sehubungan dengan penigkatan tekanan jaringan dan medula. Infeksi kemudian berkembang ke kavitas medularis dan ke bawah periosteum dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya. Kecuali bila proses infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan membentuk abses tulang. Pada perjalanan alamiahnya, abses dapat keluar spontan namun yang lebih sering harus dilakukan insisi dan drainase oleh ahli bedah. Abses yang terbentuk dalam dindingnya terbentuk daerah jaringan mati (sequestrum) tidak mudah mencari dan mengalir keluar. Rongga tidak dapat mengempis dan menyembuh, seperti yang terjadi pada jaringan lunak lainnya. Terjadi pertumbuhan tulang baru(involukrum) dan mengelilingi sequestrum. Jadi meskipun tampak terjadi proses penyembuhan, namun sequestrum infeksius kronis yang ada tetap rentan mengeluarkan abses kambuhan sepanjang hidup penderita. Dinamakan osteomielitis tipe kronik.

H.    ASUHAN KEPERAWATAN (hamdan-hariawanfkp13.web.unair.ac.id)
1.      PENGKAJIAN KEPERAWATAN 
Pengkajian  Keperawatan adalah Langkah awal dalam melakukan asuhan keperawatan .
DO:
a.       Cidera,infeksi atau bedah ortopedi sebelumnya.
b.      Peningkatan suhu tubuh
DS:
a.       Pasien yang datang dengan gejala akut ( msl: NYeri,local,pembengkakan,eritema,demam, atau kambuhan keluarnyapus dari sinus disertai nyeri,pembengkakan dan demam sedang.
b.      Pasien selalu menghindar dari tekanan didaerah tersebut dan melakukan gerakkan perlindungan.
c.       Adanya daerah inflamasi,pembengkakan nyata,pasien mengalami kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi.
2.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun  potensia berdasarkan data yang telah dikumpulkan.
Berdasarkan pada data pengkajian,diagnose keperawatan pasien dengan osteomielits dapat meliputi yang berikut :
a.       Nyeri yang berhubungan dengan inflasi dan pembengkakan.
b.      Kerusakkan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri,alat imobilisasi dan keterbatasanbeban berat badan.
c.       Resiko terhadap penyebaran infeksi,pembentukkan abses tulang
d.      Kurang pengetahuan mengenai program pengobatan.

3.      INTERVENSI
Intervensi adalah penyusunan rencana tindakkan keperawatan yang akan dilaksanakkan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnose keperawatan, Sasaran pasien meliputi:
a.       Peredaan  nyeri
b.      Perbaikkan mobilisasi fisik dalam batas batas terapeutik
c.       Kontrol dan eradikasi infeksi dan
d.      Pemahaman mengenai program pengobatan
INTERVENSI KEPERAWATAN
NO
Diagnosa
Keperawatan
Tujuan dan
Kriteria Hasil
Rencana tindakkan
Rasional
1
Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan pembangkakan
Setelah dilakukkan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan pasien tampak:
Nyeri berkurang atau hilang,klien tampak tenang

Selidiki keluhan nyeri dibagian tibia atau fibula perhatikkan awitan dan factor pemberat dan penurun.
Perhatikkan petunjuk nonverbal dari ketidak nyamanan,misalnya:
Berbaring dengan diam/gelisah tegangan otot,menangis
Berikkan lingkungan yang tenang dan tindakkan kenyamanan misalnya: Perubahan  posisi Penggunaan kompres panas/dingin ,dukungan emosional,Berikkan aktfitas hiburan yang tepat

2
Kerusakkan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri,alat imobilisasi dan keterbatassan beban berat badan.
Setelah dlakukkan tindakkan keperawatan 2x24 jam  di harapkkan pasien
Pasien memilikki cukup energy untukn beraktivitas. Menampakkan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri ,pasien mengatakkan mampu untuk melakukkan beberapa aktivitas tanpa dibantu ,koordinasi otot,tulang dan anggota gerak lainya baik.
Kaji

3
Mengontrol proses infeksi
Setelah dilakukkan tindakkan keperawatan selama 3x24 jam:
Pasien mampu merespon terhadap terpi antibiotic, Bila diperlukkan pembedahan harus dilakkukan upaya untuk menyakinkan adanya peredara darah yang  mewadai pengisapan luka untuk mencegah penumpukkan cairan.
Pasien mengungkappan nutrisi telah tercukupi.
Pantau repon pasien terhadap terapi antibiotic
Observasi tempat pemasangan balutan,pantau kesehatan umum dan nutrisi pasien,Berikkan diet protein seimbang  vitamin c dan D dipilih untuk menyakinkan adanya keseimbangan nitrogen dan merangsang penyembuhan.


4.      EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi adalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasillan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan di tetapkan.
1.      Mengalami peredaan nyeri
a.       Melaporkan berkurang nya nyeri
b.      Tidak mengalami nyeri tekan ditempat terjadinya infeksi
c.       Tidak mengalami ketidaknyamanan bila bergerak
2.      Peningkatan mobilitas fisik
a.       Berpartisipasi  dalam aktivitas perawatan diri
b.      Mempertahan kan fungsi penuh ekstremitas yang sehat
c.       Memperlhattkan pengunaan alat imobilisasi dan alat bantu dengan aman
3.      Tiadanya infeksi
a.       Memakai antibiotic sesuai resep
b.      Suhu badan Normal
c.       Tiadanya pembengkakan
d.      Anka leukosit  dan laju endap darah kembali normal.









BAB III
KESIMPULAN

Osteomielitis adalah infeksi yang terjadi pada tulang.Oateomielitis dapat di klasifiksikan menjadi dua,yaitu :
1.      Osteomielitis Primer ,yaitu penyebarannya secara hematogen dimana mikroorganisme berasal dari focus ditempat lain dan beredar melalui sirkulasi darah.
2.      Osteomielitis Sekunder ,yaitu terjadi akibat penyebaran kuman dari sekitarnya akibat dari bisul, luka fraktur dan sebagainya.
Osteomielitis dapat disebabkan oleh bakteri,antara lain
1.      Staphylococcus aureus sebanyak 90%.
2.      Haemophylus influenzae (50%) pada anak-anak dibawah umur 4 tahun.
3.      Streptococcus hemolitikus.
Manifestasi klinis dari Osteomielitis,antara lain :
1.      Demam
2.      Nafsu makan menurun
3.      Nyeri tekan saat pemeriksaan fisik
4.      Gangguan sendi karena adanya pembengkakan.
Patofisiologi dari Osteomielitis yaitu :
Staphylococcus aureus,Proteus, Pseudomonas, dan Escerichia Coli menginfeksi tulang sehingga terdapat peningkatan insiden infeksi resistensi penisilin, nosokomial, gram negative dan anaerobik.Dapat menyebabkan Osteomielitis stadium 1,stadium2,stadium 3.Respon inisial terhadap infeksi adalah salah satu dari inflamasi, peningkatan vaskularisasi, dan edema. Setelah 2 atau 3 hari, trombisis pada pembuluh darah terjadi pada tempat tersebut, mengakibatkan iskemia dan nefrosis tulang sehubungan dengan penigkatan tekanan jaringan dan medula. Infeksi kemudian berkembang ke kavitas medularis dan ke bawah periosteum dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya
Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien osteomielitis adalah
1.      Nyeri berhubungan dengan agen injury fisik
2.      Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan integritas tulang
3.      Gangguan intergritas kulit berhubungan dengan imobilisasi fisik















DAFTAR PUSTAKA

Anjarwati, Wangi,(2010), Tulang dan Tubuh Kita, Getar Hati:Yogyakarta.
Brunner, Suddarth,(2001) Buku Ajar Keperawatan-Medikal Bedah, Edisi 8 Volume 3,EGC : Jakarta.
Brunner,suddarth.2001.Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah.Penerbit, EGC : Jakarta
Carpenito, 1990. Diagnosis Keperawatan Pada Praktek Klinik.
Depkes RI, 1995. Pusat Data Kesehatan.
Dorland, W. A. Newman, 2002. Kamus Kedokteran Dorland.Terbitan EGC : Jakarta. 
Dorland, 2002.Kamuskedokteran dorland.Terbitat EGC :Jakarta.
Henderson, 1997. Effects of Air Quality Regulation on in Polluting Industries.
Http: //hamdan-hariawan-fkp13.web.unair.ac.id/artikel_detail-84377-askep-asuhan%20keperawatan%20osteomielitis.html
http://raraswibawanta.blogspot.com/2014_03_01_archive.html
KAMUS KEDOKTERAN Edisi 29. Alih bahasa : Andy Setiawan, et al. Jakarta : EGC, pp : 1565, 1.
Nursalam, 2001. Konsep dan Metode Keperawatan.
PENYAKIT TULANG & PERSENDIAN. Jakarta : pustaka populer obor.
Price, Wilson, 2005.Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6. EGC, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar