MAKALAH
PENGKAJIAN DAN PEMERIKSAAN FISIK
SISTEM
NEUROBEHAVIOR
BAB I
PEMBAHASAN
A. Pengkajian
Pengkajian merupakan salah satu urutan/bagian dari proses keperawatan yang sangat menentukan keberhasilan asuhan keperawatan yang diberikan. Tanpa pengkajian yang baik, maka rentetan proses selanjutnya tidak akan akurat, demikian pula pada pasien dengan gangguan persarafan. Gangguan persarafan dapat berentang dari sederhana sampai yang kompleks. Beberapa gangguan persarafan menyebabkan gangguan/hambatan pada aktifitas hidup sehari-hari bahkan berbahaya.
Komponen utama pengkajian persarafan adalah :
Pengkajian merupakan salah satu urutan/bagian dari proses keperawatan yang sangat menentukan keberhasilan asuhan keperawatan yang diberikan. Tanpa pengkajian yang baik, maka rentetan proses selanjutnya tidak akan akurat, demikian pula pada pasien dengan gangguan persarafan. Gangguan persarafan dapat berentang dari sederhana sampai yang kompleks. Beberapa gangguan persarafan menyebabkan gangguan/hambatan pada aktifitas hidup sehari-hari bahkan berbahaya.
Komponen utama pengkajian persarafan adalah :
1. Riwayat
kesehatan klien secara komprehensif
2. Pemeriksaan
fisik yang berhubungan dengan status persarafan
3. Diagnostik
test yang berhubungan dengan persarafan baik bersifat spesifik maupun bersifat
umum.
a. Anamnesa
Wawancara berfungsi untuk
mengumpulkan data terkait kesehatan pasien. Pengumpulan data ini bisa diperoleh
dari pasien maupun dari pihak keluarga pasien. Aspek-aspek yang dikaji antara
lain:
1)
Riwayat
kesehatan
Tujuan diperolehnya riwayat kesehatan
klien adalah menentukan status kesehatan saat ini dan masa lalu dan memperoleh
gambaran kapan mulainya penyakit yang diderita saat ini.
2) Data Biografi :
Termasuk diantaranya adalah identitas
klien, sumber informasi (klien sendiri atau orang terdekat/significant other).
3) Keluhan Utama
Hal-hal
yang dapat di kaji yaitu nyeri, vertigo,masalah pengelihatan, penciuman,
menelan, sulit berbicara,gagguan eliminasi pernapasan, sirkulasi, suhu tubuh,
seksualitas, dan emosi. Pengumpulan data-data tersebut dapat menggunakan pola
PQRST. Perawat memperoleh
gambaran secara detail pada kondisi yang utama dialami klien. Memperoleh
informasi tentang perkembangan, tanda-tanda dan gejala-gejala : onset
(mulainya), faktor pencetus dan lamanya. Perlu menentukan kapan mulainya gejala
tersebut serta perkembangannya.
4) Riwayat penyakit dahulu
Dalam
mengumpulkan data tentang riwayat penyakit dahulu, perawat dapat menanyakan
apakah pasien pernah mengalami cedera kepala, stroke, pembedahan, dan lain
sebagainya. Mencakup penyakit yang
pernah dialami sebelumnya, penyakit infeksi yang dialami pada masa kanak-kanak,
pengobatan, periode perinatal, tumbuh kembang, riwayat keluarga, riwayat
psikososial dan pola hidup. Penyakit saraf sering mempengaruhi kemampuan
fungsi-fungsi tubuh. Perawat perlu menanyakan perubahan tingkat kesadaran,
nyeri kepala, kejang-kejang, pusing, vertigo, gerakan dan postur tubuh.
5) Obat-obatan
Perawat
dapat menanyakan mengenai penggunaan obat-obatan yang dapat mengganggu sistem
syaraf. Perawat akan memperoleh
informasi sehubungan dengan obat-obatan yang diperoleh klien. Banyak obat-obat
anti alergi dan pilek yang bisa dikomsumsi dapat mengakibatkan klien mengantuk.
Perawat harus mengkaji obat yang digunakan, jenis obat,
efek terapinya, efek samping yang ditimbulkan dan lamanya digunakan.
6) Riwayat kesehatan keluarga
Perawat
dapat menanyakan mengenai adanya anggota yang menderita penyakit terkait sistem
persyarafan, Perawat akan
menanyakan pada keluarga sehubungan dengan gangguan persarafan guna menentukan
faktor-faktor resiko / genetik yang ada. Misalnya epilepsi, hipertensi, stroke,
retardasi mental dan gangguan psikiatri.
7)
Riwayat
psikososial dan pola hidup
Perawat mengajukan pertanyaan
sehubungan faktor psikososial klien seperti yang berhubungan dengan latar
belakang pendidikan, tingkat penampilan dan perubahan kepribadian. Perawat
memperoleh informasi tentang aktifitas klien sehari-hari. Juga menanyakan
adanya perubahan pola tidur, aktifitas olahraga, hobi dan rekreasi, pekerjaan,
stressor yang dialami dan perhatian terhadap kebutuhan seksual
8) Pertimbangan perkembangan
Aspek ini
ditujukan terutama pada usia Lansia dan anak-anak. Pada pasien anak atau bayi
dapat ditanyakan kepada orang tua pasien mengenai adakah faktor risiko yang
dialami selama kehamilan, adakah keluarga yang memiliki gangguan persyarafan,
bagaimana perkembangan motorik dan kognitif anak, dan lain sebagainya.
B. Pemeriksaan
fisik
pemeriksaan
fisik meliputi pemeriksaan status mental, pemeriksaan saraf cranial,
pemeriksaan motorik, pemeriksaan sensorik, dan pemeriksaan reflex. Dalam
melakukan pemeriksaan fisik diperhatikan prinsip-prinsip head to toe,
chepalocaudal dan proximodistal. Harus pula diperhatikan keamanan klien dan
privacy klien.
1.
Prosedur
Pemeriksaan Fisik Persarafan
a. Persiapan
Siapkan
peralatan yang diperlukan:
1)
Refleks hammer
2)
Garputala
3)
Kapas dan lidi
4)
Penlight atau senter kecil
5)
Opthalmoskop
6)
Jarum steril
7)
Spatel tongue
8)
2 tabung berisi air hangat dan air
dingin
9)
Objek yang dapat disentuh seperti
peniti atau uang receh
10) Bahan-bahan
beraroma tajam seperti kopi, vanilla atau parfum
11) Bahan-bahan
yang berasa asin, manis atau asam seperti garam, gula, atau cuka
12) Baju periksa
13) Sarung
tangan
b. Cuci tangan
c. Jelaskan
prosedur pemeriksaan pada klien
d. Pastikan
ruang periksa hangat dan cukup penerangan
2.
Langkah-langkah Pemeriksaan
a. Status
mental: atur posisi klien, Observasi kebersihan klien,
cara berpakaian, postur tubuh, bahasa tubuh, cara berjalan, expresi wajah,
kemampuan berbicara, dan kemampuan untuk mengikuti petunjuk. Kemampuan
berbicara klien meliputi: kecepatan, kemampuan mengucapkan kata-kata yang
keras-lembut, jelaas, dan benar. Kaji pula kemampuan pemilihan kata-kata,
kemampuan dan kemudahan merespon pertanyaan.
b. Tingkat
Kesadaran klien: dikaji menggunakan Glasgow koma
skale. Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang
terhadap rangsangan dari lingkungan. Perubahan tingkat kesadaran dapat
diakibatkan dari berbagai faktor, termasuk perubahan dalam lingkungan kimia
otak seperti keracunan, kekurangan oksigen karena berkurangnya aliran darah ke
otak, dan tekanan berlebihan di dalam rongga tulang kepala. Adanya defisit
tingkat kesadaran memberi kesan adanya hemiparese serebral atau sistem
aktivitas reticular mengalami injuri. Penurunan tingkat kesadaran berhubungan
dengan peningkatan angka morbiditas (kecacatan) dan mortalitas (kematian).
Penurunan tingkat kesadaran mengindikasikan difisit fungsi otak. Tingkat
kesadaran dapat menurun ketika otak mengalami kekurangan oksigen (hipoksia),
kekurangan aliran darah (seperti pada keadaan syok), penyakit metabolic seperti
diabetes mellitus (koma ketoasidosis), dehidrasi, asidosis, alkalosis, pengaruh
obat-obatan, alkohol, keracunan, hipertermia, hipotermia, peningkatan tekanan
intrakranial (karena perdarahan, stroke, tomor otak), infeksi (encephalitis),
epilepsi.
Jenis-jenis tingkat kesadaran
antara lain:
1)
Compos Mentis (conscious) yaitu
kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang
keadaan sekelilingnya.
2)
Apatis yaitu keadaan kesadaran
yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.
3)
Delirium yaitu gelisah,
disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak,
berhalusinasi, kadang berhayal.
4)
Somnolen (Obtundasi, Letargi),
yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun
kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur
lagi, mampu memberi jawaban verbal.
5)
Stupor (soporo koma), yaitu
keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri.
6)
Coma (comatose), yaitu tidak bisa
dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon
kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap
cahaya).
Salah satu cara untuk
mengukur tingkat kesadaran dengan hasil subjektif mungkin adalah menggunakan
GCS (Glasgow Coma Scale). GCS dipakai untuk menentukan derajat cidera kepala.
Reflek membuka mata, respon verbal, dan motorik diukur dan hasil pengukuran
dijumlahkan jika kurang dari 13, makan dikatakan seseorang mengalami cidera
kepala, yang menunjukan adanya penurunan kesadaran.
1) Respon
membuka mata:
a) Spontan : 4
b) Terhadap
stimulus verbal : 3
c) Terhadap
stimulus nyeri : 2
d) Tidak ada
respon : 1
2)
Respon motorik terbaik:
a) Mengikuti
perintah : 6
b) Dapat
melokalisasi nyeri : 5
c) Fleksi (menarik) : 4
d) Fleksi
abnormal : 3
e) Extensi : 2
f) Tidak ada
respon : 1
3)
Respon Verbal:
a) Orientasi
waktu, tempat, dan orang baik : 5
b) Berbicara
dengan bingung : 4
c) Berkata-kata
dengan tidak jelas : 3
d) Berguman : 2
e) Tidak ada
respon:1
Jika nilai GCS:
14-15
: cedera kepala ringan
9-13
: cedera kepala sedang
3-8
:
cedera kepala berat
4)
Tanyakan waktu, tanggal, tempat, dan
alas an berkunjung ke rumah sakit
5)
Tanyakan nama klien, nama anggota
keluarga, tanggal lahir, riwayat pekerjaan untuk mengkaji memori klien
6)
Kaji kemampuan berhitung klien dari
yang mudah dan meningkat ke yang lebih sulit secara bertahap, sesuaikan dengan
tingkat pendidikan, tahap perkembangan , dan tingkat intelektualitas klien.
7)
Kaji kemampuan klien berpikir
abstrak
c.
Pemeriksaan saraf kranial
1)
N I Olfactorius
Pastikan rongga hidung tidak
tersumbat oleh apapun dan cukup bersih. Lakukan pemeriksaan dengan menutup
sebelah lubang hidung klien dan dekatkan bau-bauan seperti kopi dengan mata
tertutup klien diminta menebak bau tersebut. Lakukan untuk lubang hidung yang
satunya.
2)
N II Optikus
Catat kelainan pada mata seperti
katarak dan infeksi sebelum pemeriksaan. Periksa ketajaman dengan membaca,
perhatikan jarak baca atau menggunakan snellenchart untuk jarak jauh.
Periksa lapang pandang: Klien
berhadapan dengan pemeriksa 60-100 cm, minta untuk menutup sebelah mata dan
pemeriksa juga menutup sebelah mata dengan mata yang berlawanan dengan mata
klien. Gunakan benda yang berasal dari arah luar klien dank lien diminta
,mengucapkan ya bila pertama melihat benda tersebut. Ulangi pemeriksaan yang
sama dengan mata yang sebelahnya. Ukur berapa derajat kemampuan klien saat
pertama kali melihat objek. Gunakan opthalmoskop untuk melihat fundus dan optic
disk (warna dan bentuk)
3)
N III , N IV, dan N VI
(occulomotorius, trochlear, dan abducen):
Pada mata diobservasi apakah ada
odema palpebra, hiperemi konjungtiva, dan ptosis kelopak mata.Pada pupil
diperiksa reaksi terhadap cahaya, ukuran pupil, dan adanya perdarahan pupil.
Pada gerakan bola mata diperiksa enam lapang pandang (enam posisi cardinal)
yaitu lateral, lateral ke atas, medial atas, medial bawah lateral bawah. Minta
klien mengikuti arah telunjuk pemeriksa dengan bola matanya
4)
N V Trigeminus
Fungsi sensorik diperiksa dengan
menyentuh kilit wajah daerah maxilla, mandibula dan frontal dengan mengguanakan
kapas. Minta klien mengucapkan ya bila merasakan sentuhan, lakukan kanan dan
kiri. Dengan menggunakan sensori nyeri menggunakan ujung jarum atau peniti di
ketiga area wajah tadi dan minta membedakan benda tajam dan tumpul. Dengan
mengguanakan suhu panas dan dingin juag dapat dilakukan diketiga area wajah
tersebut. Minta klien menyebutkan area mana yang merasakan sentuhan. Jangan
lupa mata klien ditutup sebelum pemeriksaan. Dengan rasa getar dapat pukla
dilakukan dengan menggunakan garputala yang digetarkan dan disentuhkan ke
ketiga daerah wajah tadi dan minta klien mengatakan getaran tersebut terasa
atau tidak
Pemerikasaan corneal dapat dilakukan
dengan meminta klien melihat lurus ke depan, dekatkan gulungan kapas kecil dari
samping kea rah mata dan lihat refleks menutup mata. Pemeriksaan motorik dengan
mengatupkan rahang dan merapatkan gigi periksa otot maseter dan temporalis kiri
dan kanan periksa kekuatan ototnya, minta klien melakukan gerakan mengunyah dan
lihat kesimetrisan gerakan mandibula.
5)
N VII Facialis:
Fungsi sensorik dengan mencelupkan
lidi kapas ke air garam dan sentuhkan ke ujung lidah, minta klien
mengidentifikasi rasa ulangi untuk gula dan asam. Fungsi mootorik dengan
meminta klien tersenyum, bersiul, mengangkat kedua al;is berbarengan,
menggembungkan pipi. Lihat kesimetrisan kanan dan kiri. Periksa kekuatan otot
bagian atas dan bawah, minta klien memejampan mata kuat-kuat dan coba untuk
membukanya, minta pula klien utnuk menggembungkan pipi dan tekan dengan kedua
jari.
6)
N VIII Vestibulotrochlear
cabang vestibulo dengan menggunakan
test pendengaran mengguanakan weber test dan rhinne test. Cabang choclear
dengan rombreng test dengan cara meminta klien berdiri tegak, kedua kaki rapat,
kedua lengan disisi tubuh, lalu observasi adanya ayunan tubuh, minta klien
menutup mata tanpa mengubah posisi, lihat apakah klien dapat mempertahankan
posisi
7)
NIX dan NX Glossofaringeus dan Vagus
Minta klien mengucapkan aa lihat
gerakan ovula dan palatum, normal bila uvula terletak di tengan dan palatum
sedikit terangkat. Periksa gag refleks dengan menyentuh bagian dinding belakang
faring menggunakan aplikator dan observasi gerakan faring. Periksa aktifitas
motorik faring dengan meminta klien menel;an air sedikit, observasi gerakan
meelan dan kesulitan menelan. Periksa getaran pita suara saat klien berbicara.
8)
N XI Assesorius:
Periksa fungsi trapezius dengan
meminta klien menggerakkan kedua bahu secara bersamaan dan observasi
kesimetrisan gerakan. Periksa fungsi otot sternocleidomastoideus dengan meminta
klien menoleh ke kanan dan ke kiri, minta klien mendekatkan telinga ke bahu
kanan dan kiri bergantian tanpa mengangkat bahu lalu observasi rentang
pergerakan sendi. Periksa kekuatanotottrapezius dengan menahan kedua bahu klien
dengan kedua telapak tangan danminta klien mendorong telapak tangan pemeriksa
sekuat-kuatnya ke atas, perhatikan kekuatan daya dorong. Periksa kekuatan otot
sternocleidomastoideus dengan meminta klien untuk menoleh kesatu sisi melawan tahanan
telapak tangan pemeriksa, perhatikan kekuatan daya dorong
9)
N XII Hipoglosus
Periksa pergerakan lidah,
menggerakkan lidah kekiri dan ke kanan, observasi kesimetrisan gerakan lidah.
Periksa kekuatan lidah dengan meminta klien mendorong salah satu pipi dengan
ujung lidah, dorong bagian luar pipi dengan ujung lidah, dorong kedua pipi
dengan kedua jari, observasi kekuatan lidah, ulangi pemeriksaan sisi yang lain
d.
Pemeriksaan Motorik.
Kaji cara berjalan dan keseimbangan
dengan mengobservasi cara berjalan, kemudahan berjalan, dan koordinasi gerakan
tangan dan kaki. Minta klien berjalan dengan menyentuhkan ibujari pada tumit
kaki yang lain (heel to toe), minta klien jalan jinjit dan minta klien berjalan
dengan bertumpu pada tumit. Lakukan romberg test.. Lakukan pemeriksaan jari
hidung dengan mata terbuka dan tertutup, evaluasi perbedaan yang terjadi.
Tes pronasi dan supinasi dengan
meminta klien duduk dan meletakan telapak tangan di paha, minta untuk melakukan
pronasi dan supinasi bergantian dengan cepat. Observasi kecepatan, irama, dan
kehalusan gerakan. Melakukan pemeriksaan heel to shin test dengan meminta klien
tidur pada posisi supine, minta klien menggesekkan tuimit telapak kaki kiri
sepanjang tulang tibia tungkai kanan dari bawah lutut sampai ke pergelangan
kaki. Ulangi pada kaki kanan. Observasi kemudahan klien menggerakkan tumit pada
garis lurus
e.
Pemeriksaan sensorik
Pemeriksaan dilakukan dengan
memberikan stimulus secara acak pada bagian tubuh klien dan dapat berupa
sentuhan ringan seperti kapas, tumpul dan tajam, suhu, getaran, identifikasi
objek tanpa melihat objek (stereognosis test), merasakan tulisan di tangan
(graphesthesia test), kemampuan membedakan dua titik, kemampuan
mengidentifikasi bagian tubuh yang diberi sentuhan dengan menutup mata (topognosis
test)
f.
Reflex
1.
Biseps: Klien diminta duduk dengan
rilekx dan meletakkan kedua lengan diatas paha, dukung lengan bawah klien
dengan tangan non dominan, letakkan ibujari lengan non dominan diatas tendon
bisep, pukulkan refleks hammer pada ibu jari, observasi kontraksi otot biseps
(fleksi siku)
2.
Triseps: Minta klien duduk, dukung
siku dengan tangan non dominan, pukulkan refleks hammer pada prosesus
olekranon, observasi kontraksi otot triseps (ekstensi siku)
3.
Brachioradialis: Minta klien duduk
dan meletakkan kedua tangan di atas paha dengan posisi pronasi, pukulkan hammer
diatas tendon (2-3 inchi dari pergelangan tangan), observasi fleksi dan
supinasi telapak tangan.
4.
Patelar: Minta klien duduk dengan
lulut digantung fleksi, palpasi lokasi patella (interior dari patella),
pukulkan reflek hammer, perhatikan ekstensi otot quadriceps
5.
Tendon archiles: Pegang telapak kaki
klien dengan tangan non dominant, pukul tendon archiles dengan mengguanakan
bagian lebar refleks hammer, obsvasi plantar leksi telapak kaki
6.
Plantar: Minta klien tidur
terlentang dengan kedua tungkai sedikit eksternal rotasi, stimulasi telapak
kaki klien dengan ujung tajam refleks hammer mulai dari tumit kearah bagain
sisi luar telapak kaki, observasi gerakan telapak kaki (normal jika gerakan plantar
fleksi dan jari-jari kaki fleksi).
7.
abdomen: minta klien tidur
terlentang, sentuhkan ujung aplikator ke kulit di bagian abdomen mulai dari
arah lateral ke umbilical, observasi kontraksi otot abdomen, lakuakan prosedur
tersebut pada keempat area abdomen.
g.
Inspeksi
Pemeriksaan secara inspeksi
dilakukan dengan menggunakan system penglihatan pengamat yang memprioritaskan
posisi tubuh bayi dan anak. Posisi telungkup menjadi posisi yang digunakan saat
menentukan normal dan abnormal tubuh bayi. Posisi normal pada bayi yaitu saat
posisi telungkup, kepala dapat menyentuh meja, serta tangan bayi menggenggam
dengan posisi tungkai pada keadaan fleksi.
Beberapa pemeriksaan fisik
secara inspeksi dapat diketahui posisi abnormal pada bayi, yaitu :
1.
Frog Posture
Keadaan posisi tubuh bayi saat tangan bayi tampak lemas disamping tubuhnya
dengan posisi terbuka (tidak menggenggam).
2.
Hemiplegi
Suatu keadaan dimana salah satu sisi tubuh bayi fleksi dan yang lainnya
tampak ekstensi lemah.
3.
Hipototoni
Suatu keadaan dimana posisi bayi tertelungkup dengan posisi tangan dan
tungkai terletak lurus diatas meja. Kadangkala hal tersebut menunjukkan bahwa
bayi kemungkinan mengalami gangguan SSP (system saraf pusat).
h.
Pemeriksaan bahasa dan bicara
Salah satu pemeriksaan yang perlu diperhatikan yaitu pada saat pasien berbicara dan menangkap inti
pembicaraan, sebab hal ini menjadi fungsi hemisfer dominan. Hemisfer kiri
adalah bagian yang dominan untuk berbicara yang pada umumnya terjadi pada
pengguna tangan kanan dominan, sebagian juga pada orang kidal.
Beberapa gangguan bicara dapat menandakan adanya gangguan pada system
neuronya. Ada 3 jenis gangguan yang dapat dikategorikan gangguan bicara, yaitu:
1.
Disartria adalah suatu gangguan
yang menyerang system otot bicara sehingga terjadi penurunan kemampuan
artikulasi, enumerasi, dan irama bicara. Misalnya saat pasien diminta untuk
menirukan kata “endokarditis” maka dapat diperkirakan pasien tidak dapat
menirukan kata tersebut. Penurunan fungsi otot bicara tersebut dapat disebabkan
oleh sklerosis amiotropik lateral, paralisis pseudobulbar, atau miastenia
gravis.
2.
Disfonia adalah suatu gangguan
pada suara, atatu vokalisasi. Berbeda dengan disartia yang terdeteksi
disebabkan oleh gangguan neuro, pada disfonia juga dapat disebabkan
non-neurologis tetapi penyebab neurologisnya yaitu cedera saraf rekuren
laringeus dan tumor otak. Karakteristik penderita disfonia adalah pasien
diminta untuk mengucapkan kata “E” maka suara pasien terdengar parau dan kasar.
3.
Afasia merupakan suatu istilah
yang menyebutkan adanya hilangnya kemampuan untuk memahami, mengeluarkan dan
menyatakan konsep bicara. Afasia dibagi menjadi 2 yaitu afasia motorik yang
merupakan istilah hilangnya suatu konsep pemikiran seseorang yag tidak dapat
diungkapkan dengan kata-kata atau tulisan serta afasia sensorik merupakan
hilangnya kemampuan untuk memahami suatu percakapan. Karakteristik penyebab
afasia adalah adanya gangguan serebrovaskular yang mengenai arteria serebri
media.
i.
Pemeriksaan status dan fungsi
mental
Pada pemeriksaan ini lebih menunjukkan
fungsi neuro bagian korteks yang lebih tinggi termasuk memberikan suatu alasan
pada setiap kasus yang dialami, menggunakan abstraksi, membuat perencanaan, dan
memberi penilaian. Pemeriksaan status dan fungsi mental memiliki hubungan
dengan pemeriksaan bahasa sebab pemeriksaan bahasa merupakan modal fungsi
korteks. Perubahan perilaku seseorang berkaitan dengan disfungsi otak organik,
maka dari itu perawat perlu memeriksa riwayat keluarga pasien untuk menentukan
penyebab perilaku yang berhubungan dengan status mental pasien. Pemeriksaan
mental pasien dapat dievaluasi dengan cara memeinta pasien menyebutkan 6 digit
nomor yang sebelumnya telah ditentukan oleh pemeriksa serta pasien dapat
diminta menyebutkan 6 macam Negara yang berbeda. Hal tersebut dapat menentukan
status dan fungsi mental pasien.
BAB II
PENUTUP
Setelah
melakukan pemeriksaan fisik, klien dikembalikan pada posisi yang nyaman,
jelaskan kesimpulan dari pemeriksaan fisik, jika ditemukan kelainan
didiskusikan dengan tim medis. Tahap akhir adalah pendokumentasian. Catat
dengan teliti dan sistematis, dapat dimengerti oleh setiap anggota tim
kesehatan.
DAFTAR ISI
http://wahyu-indonesia.blogspot.com/2012/05/pemeriksaan-fisik-sistem-persarafan.html